Muntilan, 7 Juli 2026 – Setiap pohon yang kokoh selalu bertumpu pada akar yang menghunjam dalam tanah. Begitu pula perjalanan seorang Vanlithsian. Sebelum bertumbuh menjadi pribadi yang cerdas, berkarakter, dan berjiwa pemimpin, setiap peserta didik terlebih dahulu diajak menemukan akar yang akan menopang seluruh perjalanan hidupnya. Semangat itulah yang dihidupi dalam hari kedua Orientasi Asrama dan Sekolah (OASE) 2026.
Sejak pukul 04.20 WIB, denyut kehidupan Van Lith mulai dirasakan oleh Angkatan 36. Keheningan pagi mengantar mereka menuju Perayaan Ekaristi, tempat setiap langkah dimulai dengan doa dan rasa syukur. Di tengah ritme kehidupan berasrama yang masih terasa baru, mereka perlahan belajar bahwa pendidikan di Van Lith tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga menumbuhkan kehidupan rohani sebagai sumber kekuatan dalam melangkah.
Kebersamaan sederhana saat sarapan, membiasakan diri mencuci peralatan makan, hingga menjalani setiap aturan harian menjadi pelajaran pertama tentang tanggung jawab. Nilai-nilai tersebut hadir bukan sebagai kewajiban semata, melainkan sebagai latihan untuk menghargai diri sendiri, sesama, dan lingkungan tempat mereka akan hidup bersama selama tiga tahun ke depan.
Dalam sesi meditasi yang dipandu oleh Rektor SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan, Bruder Yohanes Bosko Purwanto, FIC, peserta diajak sejenak berhenti dari hiruk-pikuk aktivitas. Dalam keheningan, mereka belajar mendengarkan suara hati, mengenali diri, dan membuka ruang bagi panggilan hidup yang kelak akan mereka jalani. Sebab mengenal Van Lith selalu diawali dengan mengenal diri sendiri.
Perjalanan menemukan akar itu berlanjut ketika para peserta mengenal guru, teman sekelas, serta komunitas belajar yang akan menjadi rumah kedua mereka. Relasi yang mulai terjalin pada hari itu menjadi benih persaudaraan yang diharapkan terus bertumbuh sepanjang masa pendidikan.

Puncak perjalanan hari kedua hadir ketika seluruh peserta diajak menelusuri kisah Romo Frans van Lith, SJ. Melalui perjalanan hidupnya, mereka tidak sekadar mempelajari sejarah sebuah sekolah, tetapi menyelami semangat seorang pendidik yang percaya bahwa pendidikan adalah jalan untuk memerdekakan manusia. Dari warisan itulah lahir visi, misi, dan budaya SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan yang hingga kini terus membentuk generasi muda menjadi pribadi yang beriman, berintegritas, dan siap melayani.
Nilai-nilai tersebut kemudian diperdalam melalui pengenalan berbagai program sekolah sebagai bagian dari proses membangun identitas Vanlithsian Rasul Kader Awam. Menjadi Vanlithsian bukan sekadar mengenakan seragam atau tinggal di asrama, melainkan menghidupi semangat kepemimpinan, pelayanan, persaudaraan, dan cinta kepada bangsa yang diwariskan Romo Van Lith.

Sore harinya, simulasi sidang akademi dan wawasan kebangsaan menjadi ruang bagi peserta untuk mulai menyuarakan gagasan. Mereka belajar bahwa setiap pendapat memiliki tanggung jawab, setiap perbedaan membutuhkan penghargaan, dan setiap pemimpin lahir dari keberanian untuk mendengarkan sekaligus berbicara dengan bijaksana.

Menjelang malam, kehidupan asrama kembali menjadi ruang pembelajaran. Melalui pengenalan tata tertib, budaya hidup bersama, pertemuan dengan pamong, hingga Doa Completorium di kapel, para peserta menyadari bahwa Van Lith bukan hanya tempat belajar, melainkan komunitas yang membentuk manusia seutuhnya akal, hati, dan tindakan.
Radices Invenire menjadi pengingat bahwa perjalanan besar selalu berawal dari akar yang kuat. Di Muntilan, Angkatan 36 mulai menemukan akar itu: akar iman yang meneguhkan, akar nilai yang membentuk karakter, akar persaudaraan yang mempersatukan, serta akar semangat pelayanan yang kelak mengantar mereka menjadi Vanlithsian Rasul Kader Awam. Dari akar yang kuat itulah harapan akan masa depan bertumbuh, agar setiap Vanlithsian mampu menjadi pribadi yang membawa terang bagi Gereja, bangsa, dan dunia.