Ayu Utami Menggugah Jiwa Muda dengan Sastra

Pada Selasa, 21 Mei 2024, SMA Pangudi Luhur Van Lith menggelar acara Sidang Akademi Istimewa (SAI) yang menjadi wadah pembelajaran dan apresiasi sastra bagi para siswa. Mengangkat tema “Merisik Jiwa Yang Tertinggal”, acara ini menghadirkan penulis ternama Ayu Utami sebagai narasumber utama. Ayu Utami, yang dikenal sebagai aktivis, jurnalis, dan sastrawan, terkenal dengan karya-karyanya yang berani.

kemeriahan terasa sejak awal acara yang dipandu oleh Farel, Yosefine, Alex, dan Altar. Setelah doa pembuka oleh Gaby, seluruh peserta dengan penuh kebanggaan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sambutan hangat dari Veronica Yayik, perwakilan sekolah, mengundang tepuk tangan meriah dari hadirin, termasuk tamu undangan.

Setelah sambutan, acara berlanjut ke sesi review novel. Novel pertama yang diresensi adalah “Saman”, karya Ayu Utami yang telah menjadi ikon sastra Indonesia. Resensi ini dibawakan oleh Arlin dan Lintang dari angkatan 33. Mereka memaparkan bagaimana “Saman” mengangkat isu-isu sosial seperti seksualitas dan status sosial di era Orde Baru. Dalam paparan mereka, Arlin dan Lintang berhasil menggugah para hadirin dengan analisis mendalam dan penjelasan yang memukau.

review ini dilengkapi dengan musikalisasi puisi yang terinspirasi dari novel “Saman”. Puisi tersebut ditulis oleh para siswa Van Lith sendiri dan dipadukan dengan melodi indah yang dibawakan oleh Kolam Susu Orchestra. Penampilan ini berhasil menghidupkan suasana dan memperdalam makna dari novel yang diresensi.

Sesi review berlanjut dengan pembahasan novel “Larung”, yang dibawakan oleh Lintang dan Kinan dari angkatan 32. “Larung” dikenal dengan diksinya yang unik dan kerap kali sulit dipahami. Namun, Lintang dan Kinan berhasil menyampaikan pesan dari novel ini dengan jelas, terutama mengenai tema feminisme dan keberanian perempuan dalam melawan dominasi laki-laki.

Penampilan ini dilanjutkan dengan musikalisasi puisi oleh Vincent dan Uli dari angkatan 33. Puisi yang mereka bawakan mengundang perhatian khusus karena menggunakan diksi yang berani dan mengarah ke hubungan seksualitas, tema yang sering muncul dalam karya Ayu Utami. Meskipun demikian, penampilan mereka tetap memukau dan memberikan perspektif baru bagi para hadirin.

Review novel terakhir yang dibawakan adalah “Bilangan Fu”, salah satu karya terkenal Ayu Utami. Resensi ini dipersembahkan oleh Floren dari angkatan 32 dan Wilsa dari angkatan 33. Mereka mengupas tema besar dalam novel ini, yaitu tentang kondisi wanita zaman dahulu serta bagaimana perbedaan pandangan dapat mempengaruhi cara seseorang menanggapi dunia.

Setelah resensi, acara dilanjutkan dengan musikalisasi puisi yang terinspirasi dari “Bilangan Fu”. Puisi berjudul “Siapa” ini kembali menegaskan keindahan seni sastra melalui kata-kata yang dirangkai dengan indah dan dipadukan dengan melodi yang mengesankan.

Puncak acara SAI adalah talkshow yang dipandu oleh Ais dan Avi dari angkatan 32, dengan Ayu Utami sebagai bintang utama. Talkshow ini menjadi momen yang sangat dinantikan, karena Ayu Utami dikenal dengan pemikiran-pemikirannya yang kritis dan kontroversial. Dalam sesi ini, Ayu Utami berbagi cerita tentang perjalanan karirnya, dari seorang jurnalis hingga menjadi novelis terkenal.

Ayu Utami menceritakan bahwa ia memilih menggunakan gaya bahasa yang vulgar dalam karyanya karena ingin merombak paradigma yang sudah ada. Menurutnya, pendidikan dan masyarakat sering kali membentuk pandangan yang sempit tentang apa yang pantas dan tidak pantas. Ia ingin menunjukkan bahwa sastra bisa menjadi medium untuk mengeksplorasi tema-tema yang dianggap tabu.

Setelah sesi talkshow, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Para siswa, yang dikenal sebagai Vanlithsian, mengajukan berbagai pertanyaan yang mendalam dan kritis kepada Ayu Utami. Mereka menanyakan alasan di balik penggunaan diksi yang vulgar, kesulitan dalam merangkai kata-kata, sumber inspirasi, hingga tanggapan Ayu terhadap kritikan yang sering kali muncul terhadap karyanya.

Dalam jawabannya, Ayu Utami menekankan bahwa dalam dunia kreatif, tidak ada aturan yang bersifat mengikat. Ia percaya bahwa inspirasi bisa datang dari mana saja, asalkan seseorang memiliki kegelisahan yang mendalam terhadap kehidupan. Ayu juga menyebutkan bahwa tokoh-tokoh dalam novelnya sering kali diambil dari orang-orang yang “terpinggirkan” dalam kehidupan nyata, sebagai pengingat bahwa ada banyak orang yang tidak terlihat namun memiliki cerita yang penting untuk disampaikan.

Acara ditutup dengan pesan inspiratif dari Ayu Utami yang mengajak siswa untuk terus belajar dan menjadi individu yang berguna bagi masyarakat. “Sekolah adalah tempat kalian belajar, bukan tempat untuk menetap. Jadilah orang yang berguna bagi masyarakat,” ujar Ayu, menutup acara dengan semangat yang membara.

Jurnalis: Jelita Lasniroha Hura, Patricia Vanessa K, Mellisa Stevania G. A

0 0 votes
Beri Nilai Pos
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments