SMA PANGUDI LUHUR VANLITH
SMA Pangudi Luhur Van Lith - Jl. Kartini No. 1 Muntilan 56411  Telp. 0293-587041 Fax. 0293-586090
Sabtu, 23 September 2017  - 7 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 



26.04.2016 09:28:59 803x dibaca.
BERITA
VISI MISI MILITANSI dan Napak Tilas Romo Van Lith SJ.

Kamis, 14 April yang lalu, bukan hari yang mudah bagi kami, angkatan 25 Van Lith. Hari itu adalah salah satu hari bersejarah dalam rangkaian kehidupan kamu di SMA Pangudi Luhur Van Lith ini. Hari itu adalah hari penentuan kami dianggap layak untuk menjadi  seorang “Vanlithsian”.

Dalam kegiatan Napak Tilas ini, kami diajak mengikuti rute Romo Van Lith menuju Gereja Sendangsono. Rute yang tidak pendek namun harus kami tempuh dengan berjalan kaki.

Dalam perjalanan Napak Tilas kami dibagi menjadi delapan belas kelompok. Dan kami tidak boleh pisah dari kelompok tersebut, yang artinya kami harus menjaga teman- teman kelompok kami selama di perjalanan nanti, dan akan ada satu ketua dari setiap kelompok yang akan memastikan anggota kelompoknya selama perjalanan.

Berawal dari pukul 04.00 pagi hari itu. Kami makan, dan mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan yang tidak bisa dianggap ringan. Setelah makan dan bersiap kami bergegas untuk berkumpul di lapangan basket SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan.

Bruder Giwal, selaku Bruder Rektor Kepala SMA Pangudi Luhur Van LIth membekali kami sebuah semangat yang akan menuntun kami untuk bisa menempuh perjalanan hingga sampai ke Sendangsono. Dan, dimulailah perjalanan kami.

Rute pertama kami adalah dari SMA Pangudi Luhur Van Lith menuju Gereja Borobudur. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 15 km, kami beristirahat di Gereja Borobudur. Disana, kami diberi tahu tentang Romo Van Lith yang pernah singgah di sana dulu.

Setelah mengisi tenaga, kami kembali berjalan dengan jarak kurang lebih dua puluh kilo meter untuk mencapai Kapel Mendut. Perjalanan inilah yang paling berat, sepanjang perjalanan kami hanya bias melihat tanjakan tidak ada jalan menurun ataupun jalan yang datar.

Tapi, di situasi inilah kekeluargaan kami diuji. Kami melihat bagaimana kami saling bantu, saling menjaga, dan saling menolong. Bukan hal yang mudah saat itu. Karena ditengah kacaunya keadaan kami yang juga kecapekan kami harus membantu teman kami yang lainnya, harus menunggu teman kami yang sudah tidak kuat dan memberinya semangat.

Setelah berlelah- lelah, perjalanan tahap kedua ini berakhir di Kapel Mendut. Di sana kami disambut oleh warga sekitar yang memberi kami snack dan juga makan siang. Istirahat kami di Kapel Mendut ini cukup lama. Di tempat ini, kami juga diberi sambutan oleh salah seorang bapak yang memiliki peran penting di dalam komunitas tersebut. Namun sayangnya, sambutan tersebut disampaikan dengan bahasa jawa sehingga beberapa teman kami yang berasal dari luar Jawa tidak bisn memahaminya.

Perjalanan tahap ketiga kami, sekaligus yang terakhir adalah menuju Sendangsono. Jika perjalanan dari Borobudur ke Mendut adalah menaik, sekarang perjalanan kami  melalui jalan menurun, tidak ada tanjakan sama sekali.

Perjalanan ini tidak terlalu panjamg selang setengah sampai dengan satu jam, kami sudah bisa sampai di Sendangsono. Di sana kami disambut oleh beberapa orang tua murid yang bisa hadir.

Setelah itu, kami mempersiapkan diri dengan berganti pakaian dengan baju drill, sebagai baju khas sekolah kami. Setelah semuanya siap, tibalah saat yang paling menegangkan, yaitu penerimaan pin.

Penerimaan pin dimulai dari kelompok satu sampai dengan kelompok terakhir, kelompok delapan belas. Saat penerimaan pin ini, kami membacakan janji kami yang sudah kami tuliskan dan telah diberkati sehari sebelumnya.

Proses penerimaan pin adalah saat yang paling menegangkan. Perasan kami dibuat campur aduk dalam sesi ini. Di sesi inilah kami melihat bagaimana teman kami yang tersenyum bangga karena bisa mendapatkan pin karena telah berhasil melalui serangkaian proses awal di Van Lith, nmaun kami juga melihat bagaimana teman kami yang menangis karena belum bisa mendapatkan pin.

Setelah sesi ini selesai, pemandangan yang terlihat di Sendangsono adalah kami, siswa angkatan 25 yang saling memberi semangat, saling mememberi motivasi, saling memberi selamat atas apa yang telah terjadi. Perasaan sedih karena ada teman kami yang belum bisa mendapatkan pin, membuat kami menangis.

Pada akhirnya, sekitar pukul 17.00 WIB, kami pulang ke asrama kami kembali, dengan keadaan yang bisa dibilang sangat kelelahan akhirnya kami bisa beristirahat kembali di asrama.

Pengalaman ini adalah pengalaman yang tidak dapat dilupakan. Salah satu peristiwa bersejarah selama proses kami SMA Pangudi Luhur Van Lith ini.  Dan di mulai pada saat itulah perjalanan kami di SMA PL Van Lith Muntilan ini untuk menjadi pribadi berkualitas untuk kedepannya.








^:^ : IP 54.162.181.75 : 2 ms   
SMA PANGUDI LUHUR VANLITH
 © 2017  http://vanlith-mtl.sch.id/