SMA PANGUDI LUHUR VANLITH
SMA Pangudi Luhur Van Lith - Jl. Kartini No. 1 Muntilan 56411  Telp. 0293-587041 Fax. 0293-586090
Minggu, 20 Agustus 2017  - 2 User Online  
BERANDABUKU TAMUHUBUNGI KAMI 



27.07.2017 07:26:38 113x dibaca.
BERITA
Menjaga KEBHINEKAAN di SMA PANGUDI LUHUR VAN LITH

SMA Pangudi Luhur Van Lith yang berdiri sejak tahun 1991 ,beralih fungsi dari SPG Van Lith dengan tetap menjaga ciri khas utamanya yaitu sitem Asrama (Convict). Kharisma perjuangan Romo Fransiskus Gregorius van Lith SJ pendiri sekolah ini amatlah terasa meskipun 91 tahun lalu beliau wafat. Romo van Lith meninggal pada tahun 17 Mei 1926 , makamnya berada di Kerkof Romo Sanjoyo Muntilan. Romo van Lith terpanggil untuk mengentaskan kemiskinan dan kebodohan masyarakat Jawa dengan mendirikan sekolah guru bagi anak-anak muda di dalam system Convict ( asrama ) yang menyatu dengan sekolah.

Sekolah guru berbahasa Belanda Normaal School ( berdiri tahun 1900) kemudian Kweekschool  tahun 1904 . Sekolah guru untuk penduduk pribumi Jawa ini memiliki murid dari penjuru Nusantara  dan dari agama apa pun. Awalnya memiliki murid 107 orang, 32 di antaranya bukan Katolik. Seiring dengan dinamika masyarakat, akhirnya pada tahun 1952 sekolah ini diserahkan kepada para Bruder FIC yang mengelola Yayasan Pangudi Luhur. Melalui pendidikan sekolah guru di Muntilan mampu menghasilkan beberapa Pahlawan nasional dan tokoh politik Katolik seperti  Cornelius Simanjutak, Jos Soedarso, Mgr. Soegiopranoto,  I.J KasimoFrans Seda,dan sejumlah tokoh lain.  Dan saat ini dikenal sebagai SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan Magelang. Seorang Pastor yang keep calm ( tenang dan tidak banyak bicara) namun gairah spiritual serta semangat nasionalis yang melebihi penduduk asli. Hal ini Nampak dari  kemauan Romo van Lith yang memperdalam bahasa Jawa dan budaya Jawa sehingga dikenal dengan sosok Pastor yang njawani.

Aura Indonesia dan rasa nasionalis masih eksis dan tetap dikembangkan di dalam system Asrama Van Lith yang terdiri dari asrama putra (ASPA) dan asrama putri (ASPI) . Memasuki asrama putra Van Lith seperti masuk dalam Indonesia mini, sebab semua suku ada di sini, meskipun suku Jawa tetaplah menjadi warga asrama mayoritas.  Menurut KKPA atau Koordinator Kerja Asrama Putra ,yaitu Bernardus Sandy Pratama kelas xi ipa , Asrama putra Van Lith layaknya sebuah keluarga besar . Bhineka Tunggal Ika Nampak dalam nama-nama unit Asrama Putra. Kelas X terdiri dari 4 unit yaitu Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan dan Sulawesi. Kelas XI terdiri dari unit Sumatra, Bali, Maluku dan unit Papua. Kelas XII terdiri dari unit Aceh, DIY, DKI dan unit Riau. Masing-masing unit rata-rata dihuni oleh 25 anak aspa. Misalnya Unit Sumatra dihuni oleh anak Jateng 12 orang ( suku Jawa ) , 2 anak DKI ( suku Betawi ), 2 anak Jabar ( suku sunda), 3 anak dari Sumatra, 2 anak dari Kalimantan, 1 anak Papua, 1 anak Makassar Sulawesi dan 1 anak Bali. Proses merasakan menjadi sebuah keluarga“Indonesia “ di asrama van Lith diawali dari kelas X ,tentu benturan di sana –sini tetaplah terjadi . Namun itu justru menjadi tahap demi tahap yang harus dilalui unutuk memurnikan hati  agar semakin empati satu sama lain. Saling ejek dalam koridor bercanda saat di unit itu menjadi hal yang wajar untuk semakin mengakrabkan. Bahkan jika ada nama yang sama di belakannya diberi embel-embel daerahnya misalnya Doni Bali, Doni Papua  dan Doni Batak .

Sandi Pratama yang dikenal oleh semua warga aspa kali ini menceritakan bahwa dia butuh waktu 6 bulan saat kelas x untuk mengenal semua teman seangkatan yang berjumlah 100 anak. Belum lagi kakak-kakak kelasnya. Dia mengungkapkan berusaha untuk bisa nyaman dengan  menerima atau mensyukuri keadaan  diri sendiri apa adanya sebelum mampu memahami teman-temannya. Selaku Koordinator asrama putra tentu berupaya untuk senantiasa menjaga rasa persatuan diantara teman-teman.  Kebiasaan di Asrama yang sudah eksis tetaplah dijaga misalnya setiap hari Sabtu malam diadakan Aspa Cup antar unit ,entah itu Futsal, ataupun Basket. Rekreasi bersama dengan menonton film juga menjadi jadwal yang diagendakan setiap minggu.

Meskipun dengan logat yang berbeda, misalnya Jawa timur dengan medhoknya, Purwokerto dengan ngapak-ngapak, NTT dan Papua dengan logat khas , Medan dengan logat melayu dsb , namun kesatuan bahasa ini menjadi wahana tersendiri bagi mereka untuk menyadari kebesaran negeri ini. Kebhinekaan ini amatlah kenthal terasa ketika acara Missio Canonica / Perutusan ( atau wisuda) , sebab mereka harus mengenakan busana adatnya masing-masing.  Bahkan doa umat disampaikan kedalam berbagai bahasa di Indonesia, Jawa, melayu, batak, flores, papua, bali dan mandarin .Tak heran bahwa 3 tahun bergumul dalam perjuangan di asrama van lith menjadi satu perekat mereka para alumni untuk selalu menjadi keluarga yang handarbeni ( rasa memiliki ). Contoh nyata yang cukup mengharukan di jaman yang sering menampilkan ego, dialami oleh Bapak Teguh Budi , guru Sejarah SMA Van Lith sejak tahun 1995 – 2016  dan saati ini mengajar di SMK PL Muntilan. Beliau pernah mengalami kecelakaan yang serius hingga di operasi dan harus perawatan yang total plus biaya yang besar. Atas gagasan beberapa alumni Van Lith yang tentunya lintas  suku, mereka saling bersatu padu turut membantu meringankan keluarga Pak Teguh . Ibu Teguh yang merasa amat diperhatikan sampai menangis terharu merasakan hal ini. ‘’Tuhan sungguh menyapaku melalui hati para alumni Van Lith’’. Itulah kalimat yang terlontar dari Bu Teguh dengan mata yang berkaca-kaca. Puji Tuhan banyak insan yang mampu merasakan kehadiran Tuhan.  Sekarang Pak Teguh sudah kembali pulih dan mengajar lagi di SMK. Betapa rasa  “Indonesia dan Nasionalis” mampu menjadi perekat untuk mengurai permasalahan yang terjadi. Dan ini baru di Van Lith, jika terjadi di semua lapisan masyarakat negeri ini tentulah persoalan bangsa yang rumit akan mampu terurai dengan rasa persatuan dan nasionalis ini.

Bahasa Indonesia, Sang Saka Merah Putih, Lambang negara  Garuda dan  Pancasila sungguh menjadi pemersatu warga negaranya. Salah satu siswa dari Indonesia, Yakobus Meak  Bagas Trilaksono , siswa kelas X warga Aspa Van Lith asal NTT tepatnya Kab. Malaka yang menjadi wilayah perbatasan dengan Timor Leste. Wajahnya  khas wilayah Indonesia Timur sebab memiliki ayah NTT dan Ibu Solo Jawa tengah. Nampaknya fisik sang Ayah mendominasi perawakannya yang gagah.  Awalnya tidak mudah memahami teman-temannya , dia mengamati perbedaan cara bicara, perilaku bahkan cara berpikir antara teman-teman dari berbagai suku. “Memang secara fisik kita orang dari wilayah timur lebih besar perawakannya, dan orang jawa lebih kecil. Tetapi beberapa teman Jawa lebih cerdas menguasai situasi saat ada masalah. Aku banyak belajar dari mereka, tenang tak perlu adu fisik, tawuran atau apa lah namun mampu bersikap  tenang mengelola masalah.” Itulah sekelumit ungkapan Meak Bagas . Kalau di daerah asalnya memang logat bicaranya keras seperti orang teriak , namun dengan pengalaman berbaur bersama teman-teman dari berbagai suku dirinya mengalami semacam Inkulturasi budaya ataupun pemikiran . Dan inilah yang sedikit banyak akan membangun karakter seseorang . Semoga SMA Van Lith mampu menyumbangkan kebaikan untuk Indonesia melalui para alumninya. Dari van Lith untuk Indonesia . –Nik -








^:^ : IP 54.145.113.2 : 2 ms   
SMA PANGUDI LUHUR VANLITH
 © 2017  http://vanlith-mtl.sch.id/